Lazada Indonesia

analisis politik abad-19


v  24 Maret 1792: Hamengkubuwono I meninggal dunia.

v  1811: Inggris yang waktu itu menguasai Jawa, membebaskan Pangeran Notokusumo.

v  1813: Notokusumo kemudian bergelar Sri Paku Alam I dan mengembangkan pemerintahan di Pakualaman.

v  31 Desember 1799: VOC dinasionalisasi oleh Belanda karena kinerjanya yang buruk. Korupsi dan kesalahan manajemen adalah sebab dari hampir bangkrutnya VOC. Semua wilayah kekuasaan VOC di Indoneisia diambil alih oleh administrasi Belanda di Batavia. Belanda semakin menguatkan cengkramannya atas wilayah Indonesia. Rakyat dipaksa menyerahkan hasil produksi pertaniannya kepada para pengusaha Belanda. Pada akhirnya Belanda mengukuhkan kekuasaan politiknya atas Indonesia.

v  1811-1816: Ketika Belanda diduduki Prancis, sebagai bagian dari perang yang dilancarkan Napoleon. Indonesia berada di bawah kekuasaan British East India Company. Sir Thomas

v  1792-1810: Kasultanan Yogyakarta diperintah oleh Hamengkubuwono II. Era ini diwarnai penahanan Belanda atas adik Sultan Hamengkubuwono II, yaitu, Pangeran Notokusumo.

v  Stanford Raffles terpilih sebagai gubernur jenderal di Jawa dan negeri jajahan lain. 
v  1814: Inggris datang ke Indonesia dan Fort York di Bengkulu. Tempat ini dikemudian hari bernama Fort Marlborough.

v  13 Agustus 1814: Setelah kejatuhan Napoleon dan berakhirnya pendudukan Prancis atas Belanda, Inggris dan Belanda menandatangani perjanjian di London yang isinya berupa persetujuan bahwa daerah koloni Belanda yang dimiliki sejak 1803 harus dikembalikan ke administrasi Belanda di Batavia. Jadi, kepulauan Indonesia telah dikembalikan dari kekuasaan Inggris ke administrasi Belanda Tahun 1815. 

v  1816-1818: Thomas Matulessy, alias Pattimura, melakukan pemberontakan melawan Belanda di Maluku.

v  1817: Raffles menerbitkan  History of Java.

v  1821-1837: Tuanku Imam Bonjol memimpin perang Padri di Sumatra Barat.

v  17 Maret 1824: Lahir Traktat London. Isi dari traktat tersebut adalah Semenanjung Malaka jadi milik Inggris, sementara Riau milik Belanda.

v  1825-1830: Pangeran Diponegoro memimpin perang di Jawa, menuntut kemerdekaan. Dalam perang tersebut, Pangeran Diponegoro dibantu oleh Pangeran Mangkubumi dan didampingi oleh Panglima Perangnya yaitu Kiai Mojo dan Sentot Alibasyah Prawirodirjo.

v  November 1828:  Kyai Maja, penasehat spiritual Diponegoro, ditangkap Belanda dan dimasukan ke Penjara.

v  Maret 1830: Diponegoro melakukan negosiasi di Magelang, dia kemudian ditangkap dan dibuang ke Manado kemudian ke Makassar dimana dia wafat. Sedangkan Sentot Alibasyah diasingkan ke Bengkulu dan wafat disana.
v  1830: Tanam paksa (Cultuurstelsel) mulai diberlakukan Belanda yang ketika itu di bawah kepemimpinan Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch. Tanam Paksa ini mengakibatkan penderitaan yang luar biasa berupa kelaparan bagi rakyat Indonesia. Akibat kelaparan ini, tidak sedikit rakyat yang meninggal. Rakyat Demak, misalnya, dari jumlah penduduk 33.600 jiwa, yang selamat dari kelaparan hanya 12.000 jiwa. Daerah Grobogan bahkan kehilangan 90 persen penduduknya. Dalam waktu dua tahun (1849-1850), dari jumlah penduduk Grobogan sebesar 89.500 jiwa, yang selamat hanya 9.000 jiwa.   

v  1833: Istilah Rupiah mulai dipakai untuk mata uang  yang beredar.

v  1837: Tuanku Imam Bonjol di Minangkabau mengakhiri perlawanan terhadap Belanda dalam perang Padri. Tuanku Imam Bonjol menyerah dan mengirimnya ke pengasingan.

v  1846: Raja Ali Haji menulis Gurindam Duabelas.

v  30 September 1848: Raja Nederland mengeluarkan keputusan Nomor 95 tentang sekolah dasar negeri untuk Bumiputera.

v  1854: Regeringsreglement 1854 memilah penduduk Hindia-Belanda menjadi Eropa, Timur Asing (Cina, Moor, Arab), dan Bumiputera.

v  1854-1863: Pangeran Antasari memimpin perang Banjar.

v  1859: Pemerintah Belanda melarang perbudakan di Hindia-Belanda.

v  1860: Douwes Dekker (Multatuli), Bekas asisten residen Lebak, Banten, menulis buku Max Havelaar. Buku yang melukiskan penderitaan yang dialami rakyat Indonesia ini, menarik perhatian umum di luar parlemen Belanda. Buku ini turut berperan dalam mengurangi penderitaan rakyat Indonesia ketika itu.

v  1871: Traktat Sumatera membatalkan penghormatan Belanda atas kedaulatan Aceh.

v  1878: Teungku Cik di Tiro, seorang ulama Islam, mulai memimpin perlawanan terhadap Belanda di Aceh. Selain itu, tanam paksa gula berakhir.

v  1873-1903: Terjadi perang mempertahankan kemerdekaan di Aceh. Diantara pemimpin perang Aceh tersebut terdapat Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien.

v  1878-1907: Sisingamangaraja memimpin perang melawan Belanda di Tapanuli.

v  1891: Eugene Dubois menemukan fosil Pithecanthropus erectus di Trinil.

v  1899: R. A. Kartini memulai karirnya sebagai penulis.

v  1900-1942: Dimulai pergerakan melawan penjajah secara nasional
Dari aspek-aspek analisis politik secara sistematis ...

v  Masa kolonial (penjajahan)

v  Penyaluran tuntutan – rendah dan tidak terpenuhi

v  Pemeliharaan nilai – sering terjadi pelanggaran ham

v  Kapabilitas – melimpah tapi dikeruk bagi kepentingan penjajah

v  Integrasi vertikal – atas bawah tidak harmonis

v  Integrasi horizontal – harmonis dengan sesama penjajah atau elit pribumi

v  Gaya politik – penjajahan, politik belah bambu (memecah belah)

v  Kepemimpinan – dari penjajah dan elit pribumi yang diperalat

v  Partisipasi massa – sangat rendah bahkan tidak ada

v  Keterlibatan militer – sangat besar 

v  Aparat negara – loyal kepada penjajah

v  Stabilitas – stabil tapi dalam kondisi mudah pecah

Sumber : www.analisispolitik.com                                        


0 Response to "analisis politik abad-19"

Post a Comment

wdcfawqafwef